Osteoarthritis (OA) atau yang dikenal sebagai penyakit radang sendi, merupakan keadaan yang menyiksa bagi kalangan lanjut usia (lansia). Penyakit ini menyebabkan tulang rawan pada sendi mengalami kekakuan, tidak elastis dan rentan rusak. Kondisi tulang rawan yang buruk membuat tendon dan ligamen meregang dan menimbulkan nyeri. Jika semakin parah, tulang akan saling bergesekan. Osteoarthritis (OA) bisa terjadi di seluruh tubuh; paling sering pada bantalan sendi pinggul, lutut, dan tulang belakang.

”Penyakit ini mayoritas diderita perempuan,” kata dr Handryono Soesilo, Akp., IACM, Dipl. CIBTAC.  ”Terutama menjelang menopause,” lanjutnya.

Belakangan ini, jumlah penderitanya kian bertambah seiring dengan bertambahnya usia harapan hidup. Artinya, makin bertambah usia seseorang, kemungkinan menderita OA semakin besar. ’’Tapi, bukan berarti semua lansia akan menderita OA. Ada juga lansia yang baik-baik saja,’’ terangnya.

Hal tersebut bergantung gaya hidup, berat-ringannya aktivitas, serta bertambahnya beban kaki menyangga tubuh. Kelompok obesitas (kegemukan), menurut Handryono, lebih rentan mengalami OA. ’’Makin berat anggota tubuh bagian atas, lutut bekerja ekstra untuk menyangganya. Lama kelamaan, lutut akan cepat rusak,’’ jelasnya.

Tidak hanya itu. seseorang dengan aktivitas berat juga rentan menderita OA. Dokter 54 tahun itu memisalkan, seseorang dengan berat tubuh 60 kilogram. Saat digunakan berjalan, beban yang disandang lutut menjadi 90 kilogram. Apalagi, kalau digunakan untuk berlari. Lutut akan menanggung beban hingga 200 kilogram. ’’Namun, penyakit ini bisa dicegah dan diobati asalkan ketika berobat tidak dalam kondisi terlambat,’’ terangnya.

Beliau menjelaskan, ada beberapa keluhan OA. Di antaranya, sendi lutut terasa kaku dan sulit untuk digerakkan, kaki tidak dapat dilipat ataupun ditekuk dengan sempuna. Dapat juga dijumpai, lutut berbunyi setiap bergerak dan bengkak. Pada kondisi lebih lanjut, rasa nyeri tetap timbul bahkan ketika dalam keadaan beristirahat atau tidur.

Handryono mengatakan, gejala OA muncul perlahan. Keluhan yang paling sering terjadi adalah rasa nyeri pada sendi akibat aktivitas, disertai kekakuan pada sendi, yang biasanya menghilang setelah digerakkan selama beberapa saat. ’’Segera konsultasi ke dokter. Apalagi, kalau usia sudah 40 tahun yang rentan menderita OA,’’ paparnya. ’’Makin cepat diketahui, kemungkinan rasa nyeri bisa hilang lebih besar,’’ tambahnya.

Untuk menegakkan diagnosis, penderita disarankan melakukan pemeriksaan darah, pemeriksaan rontgen bagian tubuh yang mengalami keluhan, bone densitometer (mengukur kepadatan massa tulang). Bila diperlukan, dilanjutkan dengan pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. Jika memiliki faktor resiko obesitas (kegemukan), upayakan untuk menurunkan berat badan mencapai berat badan ideal. Dengan begitu, dapat mengurangi beban penyangga tubuh. (An/Ds)

Share on FacebookEmail this to someoneShare on Google+Tweet about this on TwitterPrint this page
451 views

2017 © Copyright

For emergency cases        +62 31 502 0552