Blog Categories

Category: News

PERIKSA DAN PAHAMI GEJALA SERANGAN JANTUNG

Oleh: DR. dr. F.M. Judajana SpPK (K)

Kejadian kematian mendadak sering dikaitkan  dengan penyakit jantung, yang didahului dengan keluhan nyeri dada  yang menghebat, rasa tertekan dan sesak didada  serta tidak mendapatkan pengobatan yang tepat dan cepat pada jam pertama terjadinya serangan tersebut.

Seperti telah  diketahui bahwa suatu  serangan jantung  sering fatal karena pemahaman gejala sangat minim, sehingga proses kematian yang demikian agresif/cepat tidak tertangani secara memadai. Sebenarnya tubuh telah memberikan sinyal yang sering tidak ditanggapi secara cermat namun apabila terdapat kejelian mengenali gejala awal, maka banyak nyawa manusia yang menderita serangan jantung  dapat diselamatkan.

Kejadian sakit jantung tersebut lasim disebut Penyakit Jantung Koroner (PJK) atau penyakit jantung iskemik dan merupakan penyakit jantung yang paling banyak dijumpai  di masyarakat.

Namun ada pula gejala sesak dan nampak kebiruan  pada bibir dan ujung jari anak2 merupakan manifestasi  jenis penyakit jantung  bawaan . Hal tersebut menunjukan  bahwa gejala setiap penyakit jantung mempunyai gejala yang spesifik dan perlu dikenali  atau dipahami secara cermat agar mendapatkan pemeriksaan yang tepat guna serta   penangangan  yang tepat waktu.

Berbagai jenis penyakit jantung

Kategori jenis penyakit jantung telah diketahui dan penyebab kelainan struktur dan fungsi organ jantung  telah teridentifikasi baik karena kelainan genetik, metabolik, infeksi dlsbya.

Kategori dasar yang sering digunakan :

1.      Penyakit jantung bawaan

2.      Penyakit  jantung  kongestif- gagal jantung  ( Cardiomyopathy)

3.      Penyakit Jantung Koroner ( jantung arteriosklerosis)

4.      Penyakit Jantung Rematik

1. Pengenalan Sakit jantung bawaan

Kebocoran  pada jantung yang disebabkan belum sempurnanya proses penutupan sekat pemisah bilik atau serambi jantung kiri dan kanan, lasimnya terjadi pada masa bayi /anak . Gejala yang sering nampak adalah kebiruan  pada bibir, anak cepat merasa lelah, kadang2 sesak , bahkan mungkin sering pingsan saat beraktifitas.

Penyakit jantung bawaan tersebut meliputi  a.l : ASD : atrial septal defect , adalah kelainan jantung karena ada lobang pada sekat serambi jantung., VSD : venticular septal defect adalah kelainan jantung karena lobang pada sekat bilik jantung, PDA : Patent ductus arteriosus : kelainan tidak menutunya pembuluh darah yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonalis dan Tetralogi Fallot, yaitu penyakit jantung bawaan  yang merupakan kombinasi penyempitan pembuluh darah di paru dan adanya lobang pada sekat bilik jantung.

Pemeriksaan penunjang laboratorium seperti elektrolit darah, analisis gas darah dlsbnya serta rangakaian pemeriksaan radiologi  diperlukan dalam diagnosis penyakit jantung  bawaan, agar tindakan koreksi pada kelainan dapat dilakukan secara tepat.

2. Pengenalan  Penyakit jantung kongestif / gagal jantung

Penyakit pada jantung karena ketidakmampuan jantung memberikan suply darah yang cukup untuk kebutuhan seluruh tubuh.Gejala dan keluhan yang menonjol adalah sesak nafas pada posisi tidur terlentang , nafas mudah tersengal bila melakukan gerakan jasmani/olah raga, cepat lelah, batuk dan oedema (pembengkahan sendi pergelangan  kaki) sebagai tanda obstruksi kronis pada pembuluh darah dlsbnya.

Pada umumnya penyakit ini disebabkan infark myocard, penyakit jantung hipertensi dan kelainan katup jantung, serta cardiomyopathi (otot jantung). Namun penyebab lainnya sebagi faktor resiko seperti obesitas, diabetes,  merokok, memberikan konstribusi yang cukup bermakna terhadap kelainan /gagal jantung ini.

Pemeriksaan penunjang baik pada laboratorium maupun radiologik  untuk melakukan identifikasi penyebab perlu dilakukan secara cermat dan efisien. Karena tindakan yang dilakukan harus berpijak pada penyebab dasar ( underlying disease), dan tindakan eksplorasi yang menyeluruh pada penyebab penyakit jantung kongestif akan sangat membantu tatalaksana pengobatan penderita (sperti Diabetes, hipertensi dll).

3. Penyakit Jantung koroner ( penyakit jantung arteriosklerosis)

Penyakit jantung  karena adanya penyempitan pembuluh darah arteri koroner dan berakibat berkurangnya asupan darah dan oksigenasi dinding jantung (miokard). Penempitan ini karena tersumbatnya sebagian pembuluh darah koroner tersebut karena gumpalan darah yang lasim disebut trombosis. Proses tersebut dimulai pecahnya kerak (plaque) arterosklerosis yang memicu bekuan darah yang kompleks.

Gejala dan keluhan yang spesifik adalah rasa nyeri dada seperti menekan atau rasa terbakar didada (angina pectoris) dibagian tengah atau sebelah kiri yang berlangsung 5 sampai 20 menit. Rasa nyeri tersebut menjalar kebahu kiri , terkadang rahang bawah, leher serta punggung .

Pemeriksaan  laboratorium yang sangat diperlukan untuk menunjang diagnosis PJK adalah CKMB ( Creatine Kinase-MB) yang kadarnya akan meningkat pada 5 jam pertama serangan akut tersebut, namun akan menurun setelah 6 jam serangan. Pemeriksaan laboratorium lainya seperti profil lemak, kadar gula, fibrinogen, tes agregasi trombosit  dlsbya sangat membantu  strategi pengobatan yang tepat sasaran
Rangkaian pemeriksaan lainya seperti EKG (elektrokardiografi), tes uji jantung berbeban,  photo thorax, arterografi, scanning dlsbya menentukan tingkat konfirmasi kelainan penyakit jantung koroner tersebut.

4. Penyakit Jantung Rematik

Penyakit jantung jenis ini karena infeksi yang berasal dari infeksi  streptococcus yang berasal dari sakit tonsilopharingitis atau infeksi pada gigi atau gusi. Infeksi itu akan menyebar pada organ jantung melalui aliran darah  dan akan menimbulkan keradangan  pada komponen organ jantung.

Penyakit ini lasimnya menyerang katup jantung  ( katup mitral dan tricuspidal) dan dinding jantung (myocarditis). Kecacatan pada katup mitral dan tricuspidal tersebut akan menyebabkan  stenosis atau insufisiensi dalam memberikan suli darah, sedangkan miocarditis menyebakan kemampuan memompa suply darah kesluruh tubuh tergagnggu.

Pemeriksaan laboratorium yang cermat terhadap kuman penyebab ( ASO titer, C-reactive protein /CRP,darah lengkap) , serta pemeriksaan klinis baik pada tenggorokan maupun pada gigi, EKG dan seangkaian pemeriksaan radiologi akan sangat membantu  pengobatan yang sifatnya medikal maupun tindakan koreksi bedah yang akan dilakukan pada penderita.

Rangkaian pemeriksaan yang umum  untuk konfirmasi adanya serangan jantung

Serangan jantung pada penderita pada tahap pertama  melalui pemeriksaan EKG

(Elektro kardiogram) berupa rekaman /gambaran impuls elektrik jantung. Kemudian disusul pemeriksaan ekhokardiografi dengan ultrasononografi, kedua tes tersebut untuk menilai struktur dan fungsi jantung, kemudian diikuti dengan tes/ rangkaian pemeriksaan darah untuk deteksi kematian sel otot jantung  yang disebabkan karena terhentinya suply / pasokan darah ke jantung, khususnya pada otot jantung (miokardium).

Untuk deteksi otot jantung yang mengalami proses kematian ( sekarat) yang lasimnya mensekresi ensim creatin kinase (CK) , lactic dehydrokinase (LDH) dan protein yang disebut troponin T & I.

Rangkaian pemeriksaan khusus

Adapun untuk konfirmasi yang rinci pada penyakit jantung diperlukan seperti halnya arteriografi atau scanning untuk konfirmasi  lokasi kelainan obstruksi pada pembuluh darah koroner, dan luasnya daerah miokardium yang mengalami infark.

Saran

  1. Bertindak cepat untuk  ke rumah sakit terdekat dan jangan menunggu bila terdapat gejala serangan jantung
  2. Kesediaan menjalani pemeriksaan umum untuk menegakkan diagnosis jenis kelainan jantung dan tindakan intensif.
 

TATA KELOLA HIPERLIPID

Oleh :  DR. dr. F.M. Judajana SpPK (K)

Pendahuluan

Seperti diketahui, bahwa status kesehatan manusia terkait dengan kemajuan tingkat ekonomi suatu bangsa, karena kemampuan yang diperoleh membawa perobahan pola/gaya hidup  ditinjau dari seluruh aspek  yang sifatnya jasmani maupun spiritual.

Perobahan yang bermakna pada pola makan, minum dan fasilitas kehidupan fisik akan berpengaruh positip maupun negatif  pada kesehatan individu maupun lingkungan secara langsung maupun tidak langsung.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan komposisi  makanan pada manusia Indonesia terdiri atas 60 -75% karbohidrat, 12 -20% protein dan selebihnya lemak,  namun dalam dekade terakhir ini pola konsumsi khususnya komposisi makanan manusia Indonesia terutama yang berdiam di kota yang  mengalami banyak perobahan gaya hidup.

Salah satu perobahan tersebut pada pola makan sehari hari  yang saat ini terjadi adalah   berpindahnya pilihan kepada jenis makanan yang banyak mengandung lemak, sehingga mengakibatkan  kadar lemak yang tinggi dalam darah dan  menimbulkan suatu proses yang kompleks dalam pembuluh darah, serta berpengaruh pada fungsi beberapa organ dalam tubuh manusia.

Kejadian tersebut merupakan suatu kelainan metabolisme lemak  dalam tubuh yang disebut dislipidemia, yang merupakan salah satu faktor resiko utama dalam proses terjadinya penyakit jantung dan atheroskerosis pembuluh darah, misalnya tingginya kadar fraksi lemak, misalnya kadar kolesterol yang tinggi dalam darah (hiperkolesterolaemia)  atau tingginya kadar trigliserida dalam darah (hypertrigliseridemia) dlsbnya.

Lemak  dan fungsi metabolik

Secara biologis substansi lemak mempunyai peran sebagai sumber energi dalam tubuh yang dapat disimpan dalam depo lemak yang disebut jaringan  lemak (adipose tissue), sedangkan   metabolismenya berlangsung di hati (liver). Substansi lemak dapat menyimpan 9 kilo kalori per kg, sedangkan protein dan karbohidrat hanya menghasilkan 4 kilo kalori per kg .

Substansi lemak ini mengandung  asam lemak essensial yang bermanfaat bagi tubuh, namun tubuh tidak sanggup membentuk asam lemak essensial, seperti asam linoleic, arachidonic secukupnya, sehingga harus berasal dari makanan yang dikonsumsi.

Asam lemak essensial  dibutuhkan untuk kesempurnaan dan sintesis membrane dari sel, dan untuk pembentukan hormone prostalglandin serta sebagai bahan penyusun karakter kekenyalan pada kulit.

Fraksi Lemak

Substansi lipid atau  lemak  terdiri dari kolesterol, trigliserida dan phopho lipid, namun dalam darah  merupakan substansi lemak yang terikat dengan molekul protein yang lasim disebut lipoprotein.Pada setiap lipoprotein terdiri dari komponen lipid dan komponen/molekul protein yang disebut apolipoprotein. Molekul apolipoprotein menentukan metabolisme partikel dengan pengikatan pada reseptor spesifik dan bekerja sebagai kofaktor untuk aktivitas ensim.

Molekul lipoprotein terdiri dari beberapa fraksi yaitu chylomicrone, very low density lipoprotein cholesterol (VLDL – C), low density lipoprotein cholesterol (LDL-C), high density lipoprotein cholesterol (HDL-C).

Molekul lipoprotein tersebut mempunyai persamaan substansi biokimiawi yang menyusunnya namun mempunyai perbedaan dalam besarnya prosentasi substansi biokimiawi yang akan menyusun molekul tersebut. Masing2 jenis lipo protein tersebut dalam jumlah yang abnormal akan mempunyai konstribusi yang spesifik dalam proses terjadinya sakit atau kelainan pada pembuluh darah dan jantung.

Tingginya kadar  LDL-Cholesterol dan kolesterol total memberikan kemung-kinan terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah, karena keterlibatannya yang dominan dengan proses terjadinya kejadian sakit tersebut. Berdasarkan hal itu, maka pengobatan kelainan metabolisme lemak ini, ditujukan untuk menurun kan kadar LDL-C

Sebaliknya rendahnya kadar HDL-Cholesterol dalam darah ( kurang dari harga normal) akan mengakibatkan kemungkinan / resiko lebih besar terhadap  terjadinya penyakit jantung koroner. Sedangkan tingginya kadar trigliserida lebih sering dihubungkan dengan kejadian sakit diabetes mellitus dan sindroma metabolik, karena berpengaruh terhadap peningkatan LDL-kolesterol yang kecil dan padat yang disebut small dense LDL-Cholesterol, yang ternyata merupakan substansi yang berperan pada tahap awal atherosclerosis. Karena  LDL yang kecil dan lebih padat  lebih cepat  dioksidasi  dibandingkan LDL yang lebih besar . Oksidasi LDL menyebabkan pembentukan sel busa yang dihasilkan makrofag dan pembentukan bercak lemak di lapisan intima pembuluh darah arteri.

Faktor Resiko

Kadar lemak yang abnormal pada seseorang akan memberikan peluang terjadinya gangguan vascular / pembuluh darah yang  berakibat menurunnya kualitas pembuluh darah pada organ seluruh tubuh (jantung, jaringa otak, ginjal dlsb) yang lasim disebut aterosklerosis. Proses aterosklerosis akan memberi bentukan kerak (plaque) pada pembuluh darah arteri diseluruh tubuh yang memberikan penyempitan diameter and berkurangnya vaskularisasi  dan berakibat menurunnya oksigenasi jaringan.

Pada dekade terakhir abnormalitas kadar lipid  pada tubuh merupakan faktor resiko salah satu unsure terjadinya sindroma metabolik yang meliputi diabetes mellitus, hipertensi, obesitas

Adakah jenis pemeriksaan laboratorium lainnya yang  diperlukan untuk  meleng kapi dan menegakkan diagnosis kelainan metabolisme Lemak ?

Kelainan metabolisme lemak sebenarnya merupakan hasil interaksi berbagai / banyak faktor, dan memerlukan beberapa jenis  pemeriksaan laboratorium lainnya untuk melengkapi yaitu Small Dense LDL, Lipoprotein a (Lpa), apolipoprotein A1, Apolipo protein A2, apolipoprotein B.

Lipoprotein(a)

Molekul  lipoprotein yang kaya kolesterol dan disintesisi di hati, kadarnya dipengaruhi secara genetik, namun molekul ini tidak mengandung trigliseride, sehingga tidak terpengaruh oleh diit. Molekul ini berbeda  dengan fraksi liporotein  seperti VLDL, LDL, HDL namun merupakan salah satu faktor resiko independent untuk atherosklerosis premature dan merupakan protein fase akut  pada proses kejadian infark jantung dan stroke dan dianjurkan  kadarnya diukur pada saat kejadian sakit dan akan bermakna hanya dalam waktu 1 bulan setelah kejadian  meningkat dan terpaparnya sdLDL pada penderita.

Berdasarkan suatu penelitian yang menyatakan bahwa Lp(a) memiliki afinitas tinngi terhadap dinding pembuluh drah arteri dan mempunyai  berpengaruh kuat terhadap kejadian trombosis yang aterogenik.

Pada saat ini Lp (a) merupakan uji saring untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya penyakit jantung koroner (PJK) dan stroke, maka kadar > 30 mg/dl merupakan resiko PJK, sedangkan untuk resiko stroke  nilai batasnya > 20 mg/dl, serta direkomenda sikan untuk penderita dengan riwayat keluarga yang pernah menderita Penyakit jantung koroner, stroke, infark miokard atau familial hypercholesterolaemia dan disfungsi ginjal yang disertai proteinuria.

Apolipoprotein A-I

Merupakan komponen integral dari fraksi HDL  dan disekresikan dalam  bentuk lemak yang bebas. Fraksi lemak yang berupa HDL dengan kadar yang rendah merupakan faktor resiko terjadinya penyakit jantung koroner, dan pemeriksaan Apolipoprotein A-I lebih banyak digunakan untuk memeriksa penderita dengan persangkaan kelainan genetik yang mempengaruhi rendahnya kadar kolesterol HDL.

Nilai rujukan :  pada pria    :    104 – 202 mg/dl

Wanita        :    108 – 225 mg /dl

Apoliporotein A-II

Merupakan komponen protein yang menyusun struktur fraksi kolesterol HDL

Nilai rujukan : 25,1 – 35,4 mg / dl

Apolipoprotein B

Merupakan salah satu molekul yang mempunyai  nilai prediktif untuk kejadian infark miokard   dan merupakan indeks yang lebih baik dibandingkan  kolesterol total atau kolesterol LDL.Apolipoprotein B (ApoB) merupakan komponen protein yang ikut menyusun struktur utama dari fraksi chylomicrone, VLDL dan LDL. Komponen Apo B ini mempunyai konstribusi 98% dari masa total protein pada molekul LDL. Pemeriksaan Apo B akan saling melengkapi dengan pemeriksaan small dense LDL (sdLDL), misalnya  resiko infark jantung akan  meningkat 6 kali jika terdapat peningkatan ApoB dan terdapatnya sdLDL, sedangkan  resiko akan meningkat hanya 2 kali apabilat terdapat kadar Apo B yang meningkat dan terpaparnya  peningkatan molekul LDL yang besar.

Disimpulkan bahwa parameter pemeriksaan Apo B dan sdLDL akan saling menunjang terhadap besarnya resiko terjadinya PJK karena terdapatnya laju progresifitas kejadian atherosclerosis.

Menurut  journal Progress in Medicine 19, hal 1854, tahun 1999 menyatakan makin tingginya  kada Apo B plasma akan  menyebabkan kemungkinan adanya kejadian penyakit pada pembuluh darah arteri makin tinggi (lihat grafik 1)

Demikian pula laporan penelitian  pada tahun 1999 yang menyatakan  korelasi yang kuat dan berbanding lurus antara kadar Apo B yang meningkat dengan terpaparnya kadar  small dense LDL

Nilai rujukan : pada pria    : 73 – 109 mg / dl

Wanita        : 66 – 101 mg / dl

Berdasarkan berbagai penelitian menunjukan bahwa molekul Apo B dan sdLDL merupakan molekul yang berperan dalam laju progresivitas kejadian atherosclerosis pada pembuluh darah.

Konsensus dari National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III

(NCEP-ATP III).

Konsensus  yang berisi petunjuk praktis penatalaksanaan Dislipidemia akan memberikan kemudahan  dalam penanganan kelainan metabolisme Lemak (Lipid). Salah satu diantaranya Klasifikasi Kadar Lipid Plasma serta pedoman terapi berdasarkan Kadar Kolesterol-LDL sebagai sasaran serta batasan untuk mulai perobahan gaya hidup dan terapi obat yang dianjurkan.

Pemeriksaan penyaring dianjurkan  pada semua orang dewasa berumur lebih dari 45 tahun. Pemeriksaan penyaring meliputi kadar kolesterol total dan trigliserida. Bila hasilnya normal, maka dianjurkan  pemeriksaan ulang setiap lima tahun. Bila hasilnya abnormal  diperlukan pemeriksaan profil lipid lengkap yang meliputi kolesterol Total, LDL-C, HDL-C dan trigliserida serta kadar glukosa darah.

Pemeriksaan profil lengkap harus dijalankan sedini mungkin pada mereka yang beresiko tinggi terkena atherosclerosis. Berdasarkan hal itu, perlu dilakukan analisis terha dap besarnya resiko seseorang terhadap kejadian atherosclerosis. Langkah awal menentu kan kadar kolesterol LDL kemudan dilanjutkan dengan eksplorasi factor resiko lain yang menyertai. Berdasarkan analisis tersebut terdapat 3 kelompok resiko, yaitu kelompok resiko sangat tinggi, tinggi dan rendah.

Diagnosis Hiperlipidemia

PROFIL LEMAK

Tujuan   : Mengetahui kadar berbagai jenis lemak yang terlibat dalam proses terjadinya penyumbatan pembuluh darah (Aterosklerosis)

Jenis Pemeriksaan laboratorium:

Cholesterol Total, Cholesterol HDL, Cholesterol LDL-Direk, Trigliserida, ApoB, Lp(a)

Pemeriksaan Panel Resiko Penyakit Jantung Koroner/Stroke

Cholesterol Total, Cholesterol-HDL, Cholesterol-LDL, Trigliserida, Apo B, Lp(a), Glukosa (puasa dan 2 jam SM) Fibrinogen, ACA, Homoscystein, hs CRP

Tata kelola Hiperlipidemia

Konsep mendasar tata kelola hiperlipedmia  berpijak pada tahapan mengurangi ekspresi faktor resiko dan tahapan eliminasi semua faktor pemicu  proses aterosklerosis pada pembuluh darah arteri

1.Tahapan Penatalaksanaan dislipidemia

1.1 . Identifikasi faktor resiko hiperlipidemia

Langkah utama yang diperlukan identifikasi semua faktor resiko diupayakan semaksimal mungkin misalnya obesitas, hipertensi, diabetes, dlsbnya. Karena berat dan banyaknya  faktor resiko, diperlukan strategi yang tepat untuk mengurangi /minimalisasi ekspresi yang membantu terjadinya aterosklerosis

1.2. Eliminasi Faktor Pemicu

Eliminasi faktor pemicu atau lasim disebut ”trigger”, misalnya infeksi microbial yang sering terjadi dan akan  memberikan kesulitan bagi tata kelola dislipidemia, karena kejadian infeksi kuman jenis ”coccus”, chlamydia pneumoniae, cytomegalovirus pada hospes, berperan pada   proses inisiasi suatu plaque / kerak pada pembuluh darah arteri.

Makin banyak resiko dan faktor pemicu yang dimiliki seseorang maka akan  memperbesar resiko mendapatkan PJK atau kejadian stroke.

2. Penatalaksanaan Hiperlipidemia

Tujuan untuk mengendalikan kadar lipid yang berperan dominant dalam proses kejadian terosklerosis baik pada  penyakit jantung koroner, maupun kejadian sakit  stroke karena  obstruksi vaskuler maupun suatu perdarahan. .

Terapi kelainan metabolisme lemak, lasimnya terdiri atas terapi non farmakologis dan farmakologis, yang harus diberikan sedini mungkin dan terkait dengan kontinuitas dalam menjalani secara konsekwen strategi pengobatan yang diberikan..

Terapi non farmakologik dengan melakukan perobahan perilaku atau gaya hidup, dengan mengurangi makan yang kandungan lemaknya tinggi dan upaya konsumsi makan sayur dan buah, aktivitas fisik yang teratur, menurunkan berat badan, menghindari rokok dan minum beralkohol serta meningkatkan kemampuan mengelola stress psikis dlsbnya

Adapun terapi farmakologik yang bertujuan menurunkan kadar lipid ( trigliserida, kolesterol dan fraksinya seperti kolesterol HDL, kolesterol LDL), pemberian medikasi anti infeksi-mikrobial disamping obat antioksidan yang mencegah berperannya radikal bebas dan komponennya yang berpotensi / konstribusi terjadinya ateroma.

Pencegahan dislipidemia

Kejadian kelainan metabolisme Lemak dapat dicegah dengan mempertahankan pola makan yang sehat dan seimbang, (konsumsi sayur, buah, diikuti dengan membatasi konsumsi lemak), latihan fisik yang teratur sesuai dengan umur dan kemampuan fisik yang ada, sehingga tercapaiberlanjutnya berat badan yang ideal.

Upaya pencegahan non  farmakologik /gaya hidup yang perlu diperhatikan adalah tidur yang cukup, disamping aktifitas yang seimbang  berupa olah raga, olah fikir dan olah rasa, sehingga mamapu mengelola stress kehidupan baik yang bersifat jasmani maupun jiwani.

Penciptaan lingkungan bebas  asap rokok dan menghindari minuman beralkohol yang berlebihan, kemampuan mengelola stress fisik dan jiwa, semua hal tersebut berdampak kepada kehidupan jiwa pribadi yang tenang disertai sikap hidup yang selalu positip akan memberikan sumbangan yang tidak ternilai bagi kualitas hidup seseorang.            Seperti diketahui gaya hidup tersebut diatas karena akan berpengaruh kepada kualitas kehidupan sel tubuh dan interaksi biologik pada unit terkecil kehidupan tubuh  yang akan  berlangsung sempurna dan berkelanjutan, sebagai komponen penyusun kehidupan   individu manusia yang bersifat holistik.

Kesempurnaan kehidupan individu manusia  diperlukan dalam pembentukan  populasi yang sehat, sebagai pemeran pada penciptaan lingkungan hidup yang ideal dan berpengaruh pada ecosystem yang ingin dicapai .

 

KUALITAS KEHIDUPAN MENUA YANG SEHAT

Oleh :  DR. dr. F.M. Judajana SpPK (K)

Gunakan atau anda akan kehilangan !

Kualitas kehidupan sehat merupakan dambaan umat manusia meliputi kebaha- gaian jasmani dan spiritual yang akan meningkatkan  nilai martabat manusia.

Seperti telah diketahui bahwa proses kehidupan pada manusia sebagai mahluk hidup merupakan rangkaian kejadian biologik yang tidak terlepas dari pengaruh kendala internal maupun lingkungan (eksternal) pada semua jaringan tubuh yang akan berlansung berkesinambungan.

Kemampuan fungsional jaringan tubuh perlu dipelihara dan harus dimanfaatkan secara optimal sebagai karunia sang Pencipta dalam menyangga tujuan kehidupan yang berbahagia. Tata cara memelihara jaringan tubuh baik jasmani maupun jiwa agar tetap normal (sehat)  lasim ditanamkan sejak awal kelahiran sampai menuju ke fase  keabadian.

Konsep pemeliharaan tubuh adalah serangkaian pemahaman tindakan pemantauan diri (self monitoring) dan evaluasi yang tertuju pada kendala internal dan eksternal yang akan berpengaruh pada kesehatan tubuh.

Apa,  Mengapa, Bagaimana Kualitas Kehidupan sehat dapat dicapai  ?

Seperti  diketahui   bahwa dengan kehidupan  sehat kita mampu melakukan segala jenis aktifitas secara mandiri dan akan  membawa nikmat anugerah sebagai manusia yang berkebutuhan, dan berguna  baik bagi dirinya, keluarga maupun lingkungan.

Karena dalam kualitas  kehidupan  sehat  yang terjaga dan berkesinambungan akan menjamin segala cita2 kehidupannya terwujud. Pemahaman terhadap  kendala yang berpengaruh, perlu kiranya dipahami secara tuntas baik yang bersifat internal maupun yang  bersifat eksternal yang berpengaruh terhadap kejadian sakit.

Kendala Internal

Meliputi pola pewarisan genetik, sistem imunitas, sistem endokrin (hormonal), sistem syaraf dan jiwa (psikis), pola fikir dlsb

Kendala Eksternal

Meliputi pola makan, pola istirahat, keadaan lingkungan yang sehat (bebas radiasi  dan polusi) / bersih, kondisi bebas mikroorganisma / kuman penyebab sakit, budaya tradisi yang mengutamakan hidup bersih /sehat, kondisi air sebagai kebutuhan utama dsb.

Konsep Biologik Jaringan yang Menua

Semua jaringan tubuh mahluk hidup akan  mengalami suatu proses menua yang sebenarnya merupakan  proses alamiah. Seperti diketahui bahwa semua jaringan tubuh mengalami tahapan proses kemampuan jaringan tubuh yang secara perlahan berkurang baik secara struktural maupun fungsional. Apabila proses tersebut berlanjut akan menyebabkan kehilangan atau kerusakan yang permanen (menetap). Status kondisi tubuh teresebut mengalami proses patologik merupakan tahapan kejadian sakit dan selanjutnya menuju proses kematian (fase keabadian)

Apakah  berkurangnya/hilangnya kemampuan jaringan tubuh bisa dicegah ?

Perlu dipahami bahwa proses berkurangnya fungsi  dan struktur jaringan sebenar- nya masih terdapat peluang untuk dihambat atau dicegah seperti halnya ausnya suku cadang suatu mesin yang bekerjanya sangat kompleks yang tiap bagian /unit akan saling berpengaruh satu sama lain.

Peluang tersebut berdasarkan pada konsep menua sehat yang berpijak pada pecegahan secara dini terhadap semua proses kejadian sakit pada jaringan tubuh.

Konsep Menua Sehat

Konsep menua sehat terutama bertumpu pada proses jaringan tubuh yang menua tersebut agar tidak disertai proses patologik, sehingga perlu dilakukan pemahaman terha dap tata cara “memelihara” sebagai kebutuhan utama kehidupan (Unity basic of life).

Kebutuhan dasar kehidupan tersebut dengan menjaga kehidupan sehat pada raga/ jasmani,  kehidupan rasa dan terpeliharanya cara berfikir, sehingga direkomendasi  suatu konsep kehidupan sehat  bertumpa pada olah raga, olah rasa dan olah fikir .

Hal tersebut sebagai perwujutan untuk selalu memanfaatkan semua karunia Tuhan yang telah diciptakan untuk umat manusia, dan bagaimana upaya diri manusia agar mam-pu memelihara secara optimal. Misalnya melakukan gerakan ritmis dan teratur semua anggota tubuh (olah raga), mengekspresikan kemampuan berpuisi/seni/lagu sebagai olah rasa, serta memecahkan masalahdengan berfikir sistematik dan rasional (olah fikir)

Adapun keadan sakit yang tidak dapat dihindari karena factor resiko yang dipunyai karena pewarisan genetic/lingkungan kerja dsb, seyogyanya mempunyai upaya  untuk menunda / memperlambat kecepatan proses kejadian sakit tersebut.

Upaya menunda tersebut dilakukan dengan konsultasi dengan dokter keluarga yang mampu secara cermat:

  1. Memahami latar belakang yang mendasari persoalan sakit yang terjadi pada individu tersebut ( bio-psiko-sosial)
  2. Monitoring dan evaluasi terhadap semua  keluhan dan gejala yang timbul baik yang bersifat akut dan kronik
  3. Komunikasi ” dokter-penderitä “ yang sangat membantu proses penyembuhan

Apa yang sebenarnya harus kita utamakan/kerjakan ( What should we do ?)

Pemantauan dan evaluasi kesehatan raga/jasmani

Salah satu tata cara  memelihara raga/jasmani tersebut adalah pemantauan diri dan evaluasi fungsi dan struktur jaringan tubuh dengan  pemeriksaan medik berkala . Tujuan  tersebut untuk memantau terhadap kemungkinan penyimpangan  fungsi dan struktur jaringan tubuh yang mengalami kejadian sakit.

Harapan yang utama sebenarnya untuk menilai apakah pola hidup kita sudah benar  (sehat) yang meliputi pola makan, pola istirahat / rekreasi, pola komunikasi antar individu, pola fikir yang positip dalam bingkai moral-akal budi dlsbnya

Upaya kontrol kesehatan yang teratur (berkala) pada setiap jadwal yang sudah ditentukan akan menjamin dan memudahkan dalam mencegah,atu menunda setiap proses kejadian sakit yang selalu mengintai keberlangsungan hidup manusia.

Beberapa petunjuk hidup sehat dapat kita cermati manfaat bagi jaringan tubuh ki- ta dengan tujuan dapat menikmati segala aspek kehidupan sebagai unsur utama yang menunjang kualitas hidup. Menghindari factor resiko sebagai  pencegahan harus dilakukan agar tujuan hidup sehat dapat tercapai !

Kualitas hidup yang terpengaruh dengan kemajuan peradaban dan zaman tentunya perlu disikapi secara proporsional. Karena kelasiman yang berlaku / membudaya pada setiap saat / zaman tertentu perlu dinilai asa manfaatnya bagi kesejahteraan manusia

10 petunjuk hidup sehat ( Askandar Tjokroprawiro)

  1. Glukose :  Batasi penggunaan makanan dan minuman manis (gula ) yang berlebihan
  2. Uric Acid : Batasi makanan yang mengandung purine seperti Jeroan – alcohol – sarden, burung dara – unggas –kaldu – emping- tape ( JAS BUKET)
  3. Lemak ( Lipid) : Kurangi makanan yang mengandung telur – keju – kepiting, udang, kerang, cumi, susu, santen
  4. Obesitas : cegah kegemukan
  5. Sigaret : stop merokok !
  6. Hipertensi : cegah konsumsi garam berlebihan
  7. Inactivity : upayakan olahraga teratur, jalan setiap hari minimal 3 km, atau kalau bisa seribu ( 1000 ) langkah
  8. Stress : Usahakan  tidur nyenyak minimal 6 jam
  9. Alcohol abuse : Stop minum alkohol
  10. Regular check up : minimum 6 bulan 1 sekali, apabila mempunyai factor resiko, maka GMC  harus lebih sering ( 1, 2, 3 bulan )

Ringkasan

Uraian singkat tentang makna pemeriksaan medik berkala, kendala internal dan eksternal terhadap proses kejadian sakit, konsep menua sehat  petunjuk hidup sehat telah dipaparkan, dengan harapan dapat dipelajari secara seksama. Harapan yang terkandung agar didapat pemahaman yang jelas sebagai pedoman menjaga karunia sang Pencipta.

Sesuai dengan slogan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1983 tentang Usia Lanjut : ” Do not put years to life but life into years” yang mempunyai makna : “Usia yang  panjang tidak ada artinya bila tidak berguna bagi sesama, tidak berbahagia serta tidak mandiri dengan mempunyai kualitas hidup yang optimal“.